Sabtu, 19 April 2014 | Selamat Datang
21 : 29 PDIP Akan Perbaiki DCS, Beberapa Caleg Berpindah Dapil Panwaslu Tegur Jokowi, PDIP Harus Sadar Diri KPK Sita Tiga Mobil dari DPP PKS KPK Periksa Perwira Polri terkait Simulator SIM Kasus Impor Daging, KPK Periksa Kerabat Anis Matta Majelis Mujahidin Akan Gugat Pancasila Sebagai Dasar Negara ke MK Demokrat Belum Coret Tersangka Korupsi dari Daftar Caleg Ahok Ancam Guru Honorer yang Demo Ahok Sudah Prediksi e-KTP Akan Bermasalah Jokowi Diharapkan Tinjau Seleksi Camat & Lurah 2015, Pilkada Dilakukan Secara Serentak UU Parpol Digugat ke MK Gereja-gereja Indonesia Gelar 'Celebration of Unity' Tokoh Bulutangkis Karsono Meninggal Polisi Papua Barat Berhasil Temukan Barak Pelatihan Anggota OPM Jokowi Pusing Dokumen Hambat Proyek Monorel PDIP Klaim Jokowi Kantongi Izin Kampanye di Bali BKN Keluhkan Perilaku Pejabat Daerah Urus Pegawai Warga Saudi Terlibat Bom Gereja Di Tanzania Ahok: Pengganti Dirut Ancol Harus Orang Dalam

Translator

Popular

Renungan

Politik Hati Nurani: Santun>Bersih

Rasul Paulus nabi apostolik universal dengan dogma Roh Kudus ajaran ubah konstitusi kerajaan kafir jadi negara di mana Tuhan yang Esa (Elohim, Alahim, Allah) memerintah.

Dasar Imam Agung Jahudi>Islam nyatakan Dia Pendiri/Masab/Sekte Nasrani (Nashara) dengan Ideologi Iman (Pistiokrasi) dengan doktrin politik hati nurani (Hanura). Pangkatnya Kristen santun bersih. Allah bertahta pada Hati Rakyat (Kis 24:5, 11;25-26, 1 Kor7:6;Ef3:12

Lagu " Kumenang"

Robinson Togap Siagian

Suara Pembaca

Roh Kudus Menyertai Kita

YOH 14 ;15 Jika kamu mengasihi AKU , kamu menuruti perintah-KU. 16 AKU akan minta kepada BAPA , dan DIA akan memberi padamu Seorang PENOLONG yang lain , supaya IA menyertai kamu selama-lamanya .   17 yaitu ROH KUDUS , Dunia tidak menerima DIA , sebab tidak melihat DIA dan tidak mengenal DIA .    Tetapi kamu mengenal DIA , sebab IA menyertaimu dan diam didalam kamu >RENUNGAN ; ROH KUDUS menyertai dan diam didalam kita ! HALELUYA HALELUYA

Basirun Sinaga

 
Repot?

Ketika seseorang bertanya dari (sms) buat apa repot-repot mengirim ayat emas tiap minggu? Jawaban ada di >> Jos.1:8: Kita tidak boleh lupa mempercakapkan taurat Tuhan siang dan malam. "selamat beribadah"

-Pdm Togar L Tobing-

 
Jarak Terdekat Masalah

MAZMUR 4 ; 2 Apabila aku berseru ,jawablah aku , ya TUHAN , yang membenarkan aku . Di dalam kesesakan , ENGKAU memberi kelegaan kepada-ku . Kasihanilah aku dan dengarkan lah doa-ku ! >RENUNGAN ; Jarak terdekat antara suatu masalah dengan pemecahan masalah tersebut adalah jarak di antara lutut kita dengan lantai . >Selamat mencoba bagi kita yang mungkin membutuhkan pemecahan suatu masalah yang kerap terjadi !HALELUYA YESUS TUHAN MEMBERKATI !

Basirun Sinaga

 
Apa itu Pluralisme? PDF Cetak E-mail Dibaca: 2576
PostAuthorIcon pgi.or.id/Chris Poerba    PostDateIcon Kamis, 13 Oktober 2011 07:12

Musdah Mulia, Apa itu Pluralisme?“Bagi saya tidak ada urusan, dia mau masuk Islam atau tidak. Itu tidak ada hubungannya. Kalau ada yang masuk Islam, biasanya orang tersebut dibawa ke masjid, diadakan syukuran. Tetapi kalau ada yang keluar dari Islam, maka orang tersebut dicaci maki. Dengan demikian maka  sebenarnya itu masih relativisme, belum pluralisme,” begitulah ujar Musdah Mulia, yang saat ini menjabat Ketua Umum ICRP, sebuah lembaga yang aktif melakukan dialog antarumat beragama.

Bukan Relativisme

Beliau mengatakan hal tersebut di Sekolah Agama, kegiatan rutin dari lembaga yang dipimpinnya ini. Dia mengatakannya di bulan November, setahun yang lalu, baginya karena pluralisme ini tak lekang oleh waktu, sehingga kapan saja, baik untuk dikabarkan. Kehadiran Musdah Mulia di Sekolah Agama ini sangat diharapkan oleh para peserta Sekolah Agama. Dalam Sekolah Agama tersebut, beliau sedang menjelaskan ciri-ciri pluralisme, salah satunya adalah pluralisme bukan seperti relativisme. Baginya, bila ada umat yang pindah agama semestinya ditanggapi dengan biasa saja, karena iman adalah urusan masing-masing dari yang bersangkutan.

Selain relativisme, menurutnya ada lima ciri-ciri dari pluralisme. Pluralisme itu bukanlah relativisme, pluralisme berbeda dengan pluralitas, pluralisme tidak sekedar toleransi, pluralisme bukan sinkretisme, dan yang terpenting pluralisme dibangun di atas basis dialog antaragama. Pengajar di Universitas Islam Negeri ini, juga menambahkan, kalau agama tetaplah penting karena, “Agama itu menanamkan pada pemeluknya ‘vitalitas moral’ karena manusia itu yakin dan komitmen pada esensi ‘realitas’ yang fundamental. Jadi banyak pemeluknya yang sebenarnya bisa bertindak sebagai agen-agen perbaikan moral. Di sinilah nanti juga akan adanya perdebatan tentang moral.”

Keniscayaan

Pluralitas adalah sebuah fakta dan keniscayaan. Semenjak kita lahir ke dunia maka pluralitas dan keberagaman sudah ada, terutama di Indonesia yang terdapat beribu pulau yang di dalamnya terdapat banyak etnik, budaya dan bahasa. Sedangkan pluralisme adalah proses menciptakan masyarakat bersama (common sense), sehingga pluralisme itu berbeda dengan plurality atau bhinneka dan juga beda dengan diversity, yaitu keberagaman atau pluralitas yang alami. Dengan demikian, tanpa adanya dialog yang intensif, terus-menerus antara setiap pluralitas yang ada, maka tidak akan ada pluralisme. “Malah sebaliknya pluralisme adalah sebuah ‘prestasi’, pencapaian bersama dari kelompok agama dan budaya yang berlainan untuk menciptakan common society,“ terang Musdah Mulia, ketika membedakan makna terdalam dari pluralisme.

Pluralisme yang berbasiskan agama itu penting, menurutnya.“Agama bisa melahirkan tindakan kemanusiaan yang positif dan konstruktif. Dan Agama dapat menjadi ‘sumber makna’ dan kebijakan (a source of meaning and wisdom).” Terlebih-lebih dia menambahkan kalau ketidakadilan adalah musuh dari semua agama. Musuh orang beragama adalah ketidakadilan, kemiskinan dan kezaliman. Atas dasar itulah maka pluralisme itu sangat dibutuhkan di Indonesia. Musdah sangatlah iba, karena akhir-akhir ini, pluralisme lebih dinyatakan sebagai kata kotor oleh beberapa oknum, tetapi peran negaralah yang seharusnya bisa menengahi hal ini, katanya, “Yang menyedihkan negara ini tidak bersikap, karena memang tidak boleh ada fatwa untuk pluralisme. Jadi terdapat kekeliruan definisi pluralisme yang sejati itu.” Pertanyaan yang cukup penting selanjutnya adalah bagaimana kita bisa mendorong pluralitas menuju pluralisme.

Sebagai penutup dalam sesi tersebut dia menekankan kalau,“Tuhan dalam kajian saya lebih feminitas, itu yang saya bayangkan, tetapi agama yang terlalu maskulinitas. Jadi bagaimana kita bisa mengubah wajah maskulinitas agama menjadi yang lebih melahirkan kelembutan, kedamaian dan kesejukan.“ Begitulah pemahaman Musdah Mulia, baginya Tuhan dan agama kadang seiring namun kadang juga tak sejalan. *pgi.or.id/Chris Poerba

Sumber: pgi.or.id

Bagikan Artikel Ini :